Prodi Magister Manajemen Ter-Akreditasi UNGGUL dari BAN-PT

OKT
26

POJOK OPINI MAHASISWA "EKONOMI ISLAM SOLUSI KRISIS COVID-19"

Senin, 26 Oktober 2020     Dilihat: 1613

CARUT marut ekonomi Indoesia yang dilibas COVID 19 mungkinkan segera pulih? Alih-alih menjawab pertanyaan ini, pemerintah memilih menghabiskan energi meredam gejolak penolakan Omnibus Law yang sampai saat ini masih menjadi issue terpanas & trend Headlines. Berkaca pada prediksi ahli ekonomi akan datangnya resesi sebagai konsekuensi logis dari efek pandemi COVID 19 ini, maka yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana kesiapan pemerintah dalam mengantisipasi hal ini terutama dalam menyiapkan “social safety net” bagi warga negara yang terdampak langsung. peran ekonomi Islam dalam kondisi pandemi ini?

Misi ekonomi & keuangan Syariah jelas bahwa peran penting ZISWAF untuk memberdayakan ummat. Jika masyarakat Indonesia yang muslim disiplin dan patuh dalam membayar Zakat maka bukan mustahil dana kelolaan Zakat di BAZNAS melonjak tajam & pemerintah tidak perlu bingung mencari anggaran untuk pengadaan rapid test, PCR, APD hingga masker, bahkan kaum dhuafa Indonesia akan mudah dibantu untuk memenuhi kebutuhan pokok. Menurut data BAZNAS 2019 bahwa potensi Zakat di Indonesia mencapai Rp. 252 trilyun, sedangkan realisasi hanya Rp. 8,1 trilyun atau 3,2% dari potensi yang ada. Untuk menggambarkan betapa besar potensi Zakat di Indonesia, berikut diberikan beberapa ilustrasi menarik Mencapai 10,5% (APBN 2019), Harta Zakat di BAZNAS akan menempati posisi ke 2 orang terkaya di Indonesia. Jika BAZNAS dikonversi menjadi bank, akan menjadi bank terbesar ke 6 di Indonesia. Bisa untuk membangun 1700 Masjid setara Masjid Agung Surabaya, Cukup untuk memberi makan layak lebih dari 11,4 juta kaum dhuafa selama setahun penuh dan membeli 14 juta ekor sapi qurban dengan kualitas baik.

Maka yang menjadi PR bersama adalah bagaimana mewujudkan angka potensial diatas menjadi realita, ada banyak hal yang harus kita mulai kerjakan bersama seperti menggugah kesadaran ummat untuk berzakat melalui gerakan nasional wakaf, tidak cukup hanya slogan & contoh berzakat setiap tahun tapi harus disampaikan secara masif & berkelanjutan melalui media. Bagi karyawan yang muslim “wajib” hukumnya setiap tahun gajinya dipotong zakat secara autodebet melalui payroll di Bank Syariah, dan masih banyak lagi gerakan nasional yg bisa dicanangkan pemerintah untuk memungut zakat ini. Jika pemerintah setiap tahunnya rutin memungut PPH atas individu & badan maka tentunya bukanlah hal yang sulit untuk mewujudkan pungutan zakat ini.

Kita cermati bahwa masa krisis sekarang ini maka hal yang paling bernilai & dibutuhkan masyrakat adalah rasa empati & kepedulian yang tinggi antar ummat untuk bersatu-padu mentaati segala bentuk anjuran pemerintah yang telah disampikan dalam hal penanggulangan krisis ini, Insha Allah pandemi ini akan segera berlalu jika Allah mengijikan hambanya menemukan segera vaksin yang manjur untuk mengobati penyakit akibat COVID 19. Adapun tugas kita masih cukup banyak dalam memajukan perekonomian Islam, beberapa hal yang fundamental & dirasa belum nampak hingga saat ini adalah : keinginan kuat semua elemen bangssa (terutama pemerintah) untuk menjadikan syariah ini sebagai suatu gerakan nasional yang bersifat masif & berkelanjutan, hal paling sederhana & mungkin bisa segera dilakukan adalah mewajibkan setiap karyawan muslim agar pembayaran gajinya dilakukan melalui Bank Syariah & langsung dipotong kewajiban Zakat, karena kita sadari bersama bahwa pengelolaan ZISWAF di negara kita masih belum terintegrasi secara maksimal sehingga hasilnyapun belum memberikan “wow effect” bagi golongan yang membutuhkan.

Dalam kondisi krisis seperti sekarang inipun peran perekonomian Islam masih nampak di masyarakat, seperti banyaknya donasi yang dikumpulkan melalui pengajian ataupun kegiatan ibadah lain secara online, lembaga & institusi nasional berlomba-lomba menyalurkan CSR/Qardhul Hasan. Saya pribadi berharap agar agar zakat yang dikumpulkan melalui BAZNAS tahun ini jumlahnya akan jauh lebih besar dari tahun 2019 yang mencapai Rp. 8,1 trilyun mengapa? Karena saya yakin & percaya bangsa kita adalah salah satu bangsa yang dianggap paling dermawan di dunia (mengutip world giving index 2018) yang sudah menjadi budaya turun temurun yang berakar pada keseharian masyarakat kita. (*)

* Penulis : Muhammad Yusrah dan Uvy Dian Rizky Mahasiswa Prodi MM STIE Perbanas Surabaya Terbit dalam Radar Surabaya Senin, 26 Oktober 2020

Baca Selengkapnya disini

The Leading Business and Banking School



Dapatkan Informasi Disini