Prodi Magister Manajemen Ter-Akreditasi UNGGUL dari BAN-PT

DES
29

POJOK OPINI MAHASISWA "Pandemi dan Resesi, Golongan Masyarakat Mana yang Paling Berdampak dan Apa Solusinya?"

Selasa, 29 Desember 2020     Dilihat: 5707

Corona virus menjadi pandemi global karena penyebarannya yang begitu masif di seluruh dunia. Tercatat saat ini di Indonesia, hingga 27 Desember 2020 pukul 12.00 WIB, terdapat 713.365 kasus covid-19 dengan jumlah orang yang sembuh sebanyak 583.676 orang dan 21.237 orang dinyatakan meninggal dunia. Karena hal tersebut, pemerintah Indonesia langsung mengambil langkah agresif agar angka penyebaran bisa ditekan semaksimal mungkin. Social distancing lebih dipilih sebagai solusi ketimbang harus memberlakukan lockdown yang umumnya digunakan oleh mayoritas negara lainnya. Inti dari social distancing adalah menajauhi diri dari aktivitas sosial secara langsung dengan orang lain, sedangkan lockdown berarti suatu wilayah akan diisolasi dan terjadi pemberhentian total semua aktivitas di wilayah tersebut. Kemudian kenapa Indonesia lebih memilih memberlakukan social distancing dibanding lockdown. Ini terjadi karena mayoritas masyarakat Indonesia mengandalkan upah harian, sehingga akan rawan mereka tidak bisa mencari mata pencaharian apabila lockdown diberlakukan. Jangan bandingkan Indonesia dengan negara maju yang melakukan lockdown. Di Negara lain, warga negara mereka mayoritas sudah punya asuransi, jaminan pekerja, dan mereka akan tetap mendapatkan gaji bulanan walaupun mereka tidak bekerja. Serta jika lockdown diberlakukan juga akan mempersulit mobilitas barang dan jasa yang menjadi kebutuhan dasar di suatu wilayah. Apakah pandemik covid-19 dapat memberi dampak terhadap menurunnya ekonomi di Indonesia? Banyak sekali negara sudah mengalami guncangan di sektor ekonomi akibat krisis yang ditimbulkan oleh pandemik covid-19, tak terkecuali Indonesia. Pertumbuhan ekonomi global diprediksi sekitar 0,1 persen lebih rendah dari prediksi sebelumnya. Indonesia juga akan terkena dampak ekonomi akibat pandemik covid-19, diprediksi sektor-sektor seperti kinerja perdagangan, nilai tukar, aktivitas bisnis akan mengalami penurunan drastis. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebelumnya pada tahun 2019 mencapai 5,02 persen dan pada APBN 2020 ditargetkan mencapai 5,3 persen terancam gagal. Dalam situasi seperti ini banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaannya. Sebagian mereka berhasil beradaptasi dengan membanting profesi untuk menjaga pemasukan financial dan sebagian mereka tidak mampu untuk beradaptasi. Mereka mengandalkan pemasukan financial dari tabungan dan menjual beberapa aset dan sebagian yang lain tidak mampu sama sekali untuk mendapatkan pemasukan. Golongan masyarakat yang tidak mampu untuk beradaptasi dan minim sumber pemasukan financial adalah golongan yang harus menjadi fokus permasalahan oleh pemerintah dalam memperbaiki perekonomian. Pemerintah diharapkan tidak hanya memicu pergerakan perekonomian melalui dana bantuan tetapi juga edukasi untuk berwirausaha bagi golongan masyarakat yang tidak mampu beradaptasi untuk mendapatkan pemasukan. Dengan edukasi untuk berwirausaha, pemerintah tidak hanya menyelamatkan golongan masyarakat tersebut, tetapi juga berpotensi untuk melahirkan wirausahawan baru untuk menstimulus perekonomian Indonesia. (*)

Baca selengkapnya disini

*Penulis: Ponta Dewa S. dan Dimaz Bramantyo Terbit di Radar Surabaya pada Selasa, 29 Desember 2020

The Leading Business and Banking School

Kampus Wonorejo : Jl. Wonorejo Utara 16 Rungkut, Surabaya
Kampus Nginden    : Jl. Nginden Semolo 34-36, Surabaya

Telp. (031) 5947151, (031) 5947152, (031) 87863997
Fax. (031)-87862621 WhatsApp (chat) 
085895979800
Email: humas@perbanas.ac.id atau humas@hayamwuruk.ac.id

Ikuti Kami:

Whatsapp
Instagram
Youtube
Facebook
Website
Twitter


Dapatkan Informasi Disini