STIE Perbanas Surabaya

Menu
Sabtu, 17 Maret 2018 17:37

Peluang Perbankan Syariah Di Era Digital

Di Indonesia, pelaku maupun asset ekonomi syariah berkembang secara eksponensial atau sangat pesat. Kondisi tersebut berpotensi mengalami risiko yang besar sehingga membutuhkan regulasi yang tepat. Perlunya membangun regulasi ini untuk mencegah kejahatan teknologi (Cyber Crime). Regulasi yang ditetapkan oleh Bank Indonesia ini dirancang agar tidak mengekang inovasi yang dikembangkan karena inovasi di teknologi menjadi tulang punggungnya. Kondisi itulah yang disampaikan oleh Researcher Islamic Banking, Bank Indonesia Ali Sakti usai mengisi materi Seminar Nasional Perbankan di Auditorium Kampus 1 STIE Perbanas Surabaya pada Sabtu, 17 Maret 2018.
 
Pihaknya menegaskan risiko yang dihadapi oleh perbankan salah satunya terletak pada sistem yang dibangun. Sistem perbankan yang tidak mudah diintervensi oleh orang lain menjadi kepedulian dan konsennya. Di sinilah peran regulator, yakni selain menyehatkan industri, tetapi juga menjaga kepentingan dari nasabah. ”Saat ini kami sudah membuka Corner untuk penyelarasan perkembangan Fintech,” jelas Ali Sakti.
 
Bank Indonesia sebagai regulator berwewenang di sistem pembayaran, yakni media pembayaran yang dilakukan para pelaku fintech. Dalam konteks ini, Corner dibuka berguna untuk penyelarasan antara regulator dan praktisi. Nantinya, regulator akan mengetahui kemajuan teknologi yang dipakai sehingga pihaknya bisa mengidentifikasi peluang atau potensi risiko yang terkandung di setiap inovasi yang dilakukan.
 
Sementara itu, Delyuzar Syamsi, SE., MBA dalam seminar ini mengatakan industri Perbankan memanfaatkan teknologi menjadi keharusan. Pihaknya merinci perkembangan teknologi pada perbankan yang sudah terjadi. Dahulu, orang membuka rekening di cabang utama di kota, dan tak semua daerah ada cabang pembantu. Seiring berjalannya, proses pengambilan uang bisa dilakukan di bank lain dengan syarat konfirmasi ke bank yang mengelola dana nasabah. Perkembangan berikutnya, keberadaan anjungan tunai mandiri (ATM) bisa dimanfaatkan untuk satu bank, antar bank, bahkan antar negara. Dan terkini bisa menggunakan akses mobile banking.
 
“Bank Syariah harus permudah akses. Keberadaan handphone di Indonesia ada 300 juta lebih dari total penduduk sekitar 260 juta jiwa. Pemanfaatan handphone sebagai bagian perkembangan teknologi ini yang harus dimanfaatkan perbankan syariah,” papar Komite Pemantau Risiko BNI Syariah ini.
 
Ketua STIE Perbanas Surabaya, Dr. Lutfi, M.Fin., menyampaikan seminar nasional perbankan berfokus pada perbankan syariah ini diselenggarakan untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa bahwa perbankan syariah pernah mengalami ekspansi hingga melebihi 40%. Akan tetapi, pekembangan tersebut tidak diikuti dengan kualitas sumber daya manusia sehingga menjadi problem bagi pemerintah. Di sini, mahasiswa diajak untuk mempersiapkan diri dan memberikan solusi atas problem yang dihadapi pemerintah. Di samping itu, beliau mendorong mahasiswanya untuk mengenal inovasi teknologi yang sudah diterapkan di perbankan syariah.
 
Salah satu mahasiswa peserta seminar, Roselina Yunarti mengaku perbankan syariah dan konvensional ternyata memiliki perbedaan yang cukup banyak. Dari sisi aturannya, perbankan syariah harus mengikuti prinsip-prinsip syariah yang diawasi langsung oleh Dewan Keuangan Syariah. ”Salah satu contohnya, perbankan syariah menggunakan prinsip bagi hasil (mudharabah) dan larangan unsur riba,”kesan Roselina.

 

Login to post comments

Alamat Kampus

  • Kampus 1: Jl. Nginden Semolo 34-36 Surabaya
  • Kampus 2: Jl. Wonorejo Timur 16 Surabaya
  • Telp. 031-5947151, 031-5947152 Fax. 031-5935937
  • Hotline Telp/SMS/WA: 0858 9597 9800
  • email: [email protected]
Anda disini: Beranda